SELAMAT DATANG PENGUNJUNG BLOG GRIYA PERMATA NUSANTARA MADE LAMONGAN

Pages

Welcome To The Blog

Selamat Datang Pengunjung di Blog GRIYA PERMATA NUSANTARA LAMONGAN

GRIYA PERMATA NUSANTARA

Griya Permata Nusantara ( GPN ) Lamongan Jawa Timur

MUSHOLA GRIYA PERMATA NUSANTARA

Mushola Griya Permata Nusantaran Lamongan

LINGKUNGAN GPN LAMONGAN

Kerja Bakti Warga Di Lingkungan Griya Permata Nusantara, Wujud Cinta Pada Lingkungan

SANTAI BERSAMA

Santai Bersama Sesaat Setelah Kerja Bakti Selesai di Lingkungan GPN Lamongan

Minggu, 13 Juli 2014

KONSEP BID’AH DALAM PERSPEKSTIF ISLAM



 KONSEP BID’AH DALAM PERSPEKSTIF ISLAM
 KULLU BID’ATIN DOLALAH, WADOLALATUN FINNAR
By. Nurdi  S.Ag S.Pd M.Pd *)

Diakhir akhir ini perbincangan bid’ah selalu hangat dan actual untuk dibicarakan. Hal ini disamping karena  memang banyak terjadi problem-problem di masyarakat yang berkaitan dengan bid’ah, juga dari waktu ke waktu  selalu hadir kelompok-kelompok yang menolak berbagai aktivitas dan tradisi keagamaan di masyarakat dengan alasan bid’ah. Oleh karena itu tulisan ini bermaksud mengupas bid’ah dalam prespekstif Al Qur’an, hadist dan aqwal para ustadz dan ulama’ yang otoritatif (bersifat otoriter).

1.        PENGERTIAN BID’AH
Banyak orang islam menafsiri hadist“ Kullu bid’atin “ pasti Dholalah padahal sebagian saja yang dholalah, sebab ada hadist lain yang bidah yang dolalah, menjadi ‘sifat dari bid’ah’ seperti hadis “ barang siapa yang berbuat bid’ah yang sesat maka ia akan mendapat dosanya orang lain yang melakukannya tidak berkurang sedikitpun” dikutib dari kitab   Aqidah Firqoh Najiyyah. Halaman 27 Karya Habib Zainal
Dalam kitab karya Habib Zainal Abidin  halaman 25-27, dalam Hadis tarmidzi dan Abu Dawud “ setiap perkara dari perkara baru (yang diadakan) adalah bid’ah dengan setiap bid’ah adalah sesat,  dan setiap kesesatan di Neraka “ yang dimaksud adalah bid’ah Syayyiah (amalan yang bertentangan dengan Al qur’an Assunnah, Ijmak) seperti golongan-golongan yang sesat. Berbeda dengan bid’ah yang mempunyai dasar hokum syara’ adalah Bid’ah hasanah yang dilakukan Khulafaaurrosyidin  dan imam yang mendapat petunjuk. Seperti madhab 4 (empat). Karena Hadist tersebut masih “am”/Umum/general yang di takhasis, bahkan kata kullu ini termasuk takhsis, dalam kitab mantek kata kull ada 2 pengertian yaitu :
a.         Kul, menetapkan hokum atas suatu secara keseluruhan, seperti semua santri mengangkat rumah. artinya menetapkan santri secara keseluruhan 
b.         Kulliyah, menetapkan hokum atas sesuatu secara satu persatu, seperti tiap-tiap santri mengangkat buku artinya masing-masing, orang perorang mengangkat buku tidak diartikan kumpulan santri mengangkat buku, artinya masing-masing, orang perorang mengangkat buku.tidak diartikan kumpulan santri mengangkat sebuah buku. Intinya tidak sebuah bid’ah itu sesat.

2.        MACAM-MACAM BID’AH
Dalam Kitab “Majalisus Saniyah “ halaman 22-23 bahwa Bidah dibagi menjadi lima (5) :
1.         Wajib Seperti Belajar Nahwu
2.         Haram Seperti Madzhab Qodariyah Jabariyah
3.         Sunnah Seperti Mendirikan Pondok Pesantren Dan Madrasah
4.         Makroh Seperti Menghias Masjid Dan Mushab/ Al Qur’an
5.         Mubah Seperti Berjabat Tangan Seperti Sholat Fardhu.
Adapun sejarah Hadist  tentang bid’ah tidak ada kaitannya dengan orang lain, cuman Nabi Muhammad waktu itu berfikir bahwa umatnya suatu zaman pasti berbeda-beda tentang memahami islam, yang selamat adalah “ahlissunnah wal jama’ah” maksudnya orang islam itu pasti masuk surga, asal akhir hayatnya tetap islam, tetapi selain ahlussunnah mampir/berhenti di neraka dulu karena aqidanya kurang benar.

3.        BID’AH HASANAH ( BAIK) PADA MASA RASULULLAH
a.    Hadist dari Sayyidina Mu’adz bin Jabal ( Tentang tehnis sholat berjamah)  yang maksudnya hadist menunjukkan bolehnya membuat perkara baru dalam ibadah   seperti sholat dan lainnya, apabila sesuai dengan tuntunan syara’. Dalam hadist ini  Nabi Muhammad tidak menegur mu’adz dan tidak pula berkata ‘mengapa kamu berbuat cara baru dalam sholat sebelum bertanya kepadaku ? bahkan beliau membenarkannya karena perbuatan Muadz sesuai dengan kaiedah berjamah yaitu makmum harus mengikuti imam ( berbuat hal baru dalam ibadah pada masa Nabi Muhammad Masih Hidup))
b.    Hadist Rifa’ah bin Rafi’ ( Hadist tentang bacaan bangun dari ruku’) yang intinya dari hadist sahabat mengerjakan sesuatu baru yang belum pernah diterimahnya Rasulullah yaitu menambah bacaan dzikir dalam iftitah dan dzikir dalam I’tidal. Ternyata nabi membernarkan perbuatan mereka  bahkan memberikan kabar gembira tentang pahala yang mereka lakukan  karena perbuatan mereka sesuai dengan syara’ dimana dalam I’tidal dan iftifah itu tempat memuji kepada allah. Oleh karena itu imam Al Hafidz ibn Hajar al askolani menyatakan bahwa hadist ini menjadi dalil dibolehkannya berbuat dzikir baru dalam sholat, selama dzikir ttersebut tidak menyalahi dzikir yang maksur(datang dari Nabi) dan boleh mengeraskan suara dalam bacaan dzikir selama tidak mengganggu orang lain.
Masih banyak hadist hadist tentang bid’ah /sesuatu baru yang sebelumnya belum dilakukan Rasulullah namun Rasul diam dan membenarkan, dalam catatan penulis setidaknya ada 7 (tujuh) hadist yang terkait dengan hal ini.

4.        BID’AH HASANAH ( BAIK) PADA MASA SETELAH RASULULLAH WAFAT
a.      Penghimpunan Al-Qur’an Dalam Satu Mushaf
Pada masa Kholifah Abu bakar dan Umar bin khottob, umar mengusulkan Abu Bakar penghimpunan al qur’an dalam satu mushaf. Abu bakar mengatakan bahwa hal itu ( menghimpun Al qur’an dalam 1 mushaf) belum pernah dilakukan Rasulullah. Tetapi Umar meyakinkan Abu bakar, bahwa hal itu tetap baik walaupun belum perna dilakukan Rasulullah dengan demikian  tindakan beliau ini tergolong bid’ah. Dan para ulama sepakat bahwa menghimpun al qur’an dalam satu mushaf hukumnya wajib, miskipun termasuk bid’ah  agar al quran tetap terpelihara. Oleh karena itu penghimpunan al qur’an ini tergolong bid’ah hasanah yang wajibah. Mengingat jika tidak dibukukan pada waktu perang yamamah  para hafidz al qur’an banyak yang meninggal dunia terbunuh.
b.      Sholat Tarowih Berjamah
Diantara perkara bid’ah yang telah ada sejak zaman Nabi dan para sahabat adalah sholat tarowih yang oleh kaum muslimin di perdebatkan tentang pelaksanaan dan jumlah rokaatnya.
Rasulullah tidak pernah menganjurkan sholat tarowi secara berjama’ah, beliau hanya melakukannya beberapa malam kemudian meninggalkannya. Beliau tidak pernah pula melakukannya secara rutin tiap malam. Tidak pula mengumpulkan mereka untuk melakukannya. Demikian pula pada masa kholifah abu bakar. Kemudian umar mengumpulkan mereka untuk melakukan sholat tarowih pada seorang imam, dan menganjurkan mereka untuk melakukannya. Apa yang beliau lakukan ini tergolong bid’ah. Tetapi bid’ah hasanah, karena itu beliau mengatakan : sebaik-baik bid’ah adalah ini. Pada hakekatnya apa yang beliau lakukan ini termasuk sunnah, karena rasulullah telah bersabda “ Berpeganglah dengan sunnah ku dan sunnah khulafaurrosyidin yang memperoleh petunjuk.”
c.       Adzan Jum’at Petama
Pada masa rasulullah,abu bakar dan umar adzan jumat dikumandangkan apabila imam telah duduk diatas mimbar. Pada masa kholifah usman kota madina semakin luas populasi penduduk semakin meningkat sehingga mereka perlu mengetahui dekatnya waktu jumat sebelum imam hadir di mimbar. Lalu usman menamba adzan pertama, yang dilakukan di Zaura’ tempat dipasar madinah agar mereka segera berkumpul untuk menunaikan sholat jumat, sebelum imam hadir keatas mimbar semua sahabat yang ada pada waktu itu menyetujuhinya apa yang beliau lakukan ini termasuk bi’ah, tetapi bidah hasanah dan dilakukan hingga sekarang oleh kaum muslimin. Benar pula  menamainya dengan sunnah, karena usman termasuk khulafaurrosyidin yang sunnahnya harus diikuti berdasarkan hadiist sebelumnya.
Masih banyak lagi hal-hal yang dilakukan sahabat termasuk bid’ah tapi bid’ah hasanah(baik) diantaranya tentang sholat sunnah sebelum sholat idul dan sesudahnya, lafat talbiyah doa yang dibaca ketika menunaikan ibadah haji, redaksi bacaan sholawat nabi .

5.        BID’AH HASANAH SETELAH GENERASI SAHABAT ( ULAMA’ TABI’IN)
Setelah generasi punah, dari waktu ke waktu kaum muslimin juga masi melakukan kreasi yang diperlukan dan dibutuhkan umat islam  sesuai dengan perkembangan zaman yang harus diikuti dengan kecekatan dalam bertindak. Beberapa kreasi kaum muslimin setelah generasi sahabat dan kemudian diakui sebagai bid’ah hasanah, seperti Pemberian titik dalam penulisan mushaf , pada masa rasulullah penulisan mushaf al qur’an yang dilakukan para sahabat tanpa pemberian titik  terhadap huruf huruf seperti ba’ ta’ / kha’ kho’ / tho’ dho’ dst. Bahkan ketika usman menyalin mushaf menjadi enam salinan, yang lima salinan dikirim ke berbagai Negara islam seperti basra, makkah dan lain-lain. Dan satu salinan untuk beliau pribadi dalam rangka penyatuan bacaan kaum muslimin, yang dihukumi bid’ah hasanah wajibah oleh seluruh ulama’, juga tanpa pemberian titik terhadap huruf hurufnya. Pemberian titik pada mushaf al qur’an baru dimulai oleh seorang ulama’ tabi’in, Yahya bin Ya’mur (  wafat sebelum tahun 100H atau 719M). Setelah belau memberikan titik pada mushaf, para ulama’ tidak menolaknya miskipun nabi belum pernah memerintahkan pemberian titik pada mushaf. Adapun contoh lain terkait dengan bid’ah hasanah yaitu penulisan ketika menulis nama Nabi, perkembangan ilmu hadist, bid’ah hasanah Al Imam Ahmad Bin Hambal ( termasuk Mujtahid) yang mengakui bid’ah hasanah. Diantara bid’ah hasanah ahmad bin hambal adalah mendoakan gurunya dalam sholat, sudah barang tentu doa yang dibaca oleh imam ahmad bin hambal tidak pernah dilakukan Nabi, Sahabat, maupun Tabiin.

Adapun tradisi-tradisi ulamat dan kaum muslim misalnya tradisi ngapati, mitoni tingkepan (melet kandung) , mengiringi jenazah dengan bacaan tahlil/ laa ilaha illallah pada waktu berangkat dan pulangnya, melakukan talqin kepada mayit, atsar Sofyan imam Thowus berkata ’ selamatan 7 hari, 40, 100, 1.000 hari  kematian dan haul, jamuah makan kepada para takziah, tahlil Fida’/Tebusan, membaca al qur’an di kuburan, dzikir bersama dengan mengeraskan suara sarujuk pendapat Syeh Muhammad Bin Ali Al Syaukani ( ulama’ syaiah Zaidiyah ( yang sangat dikagumi kaum Wahabi), tradisi tahlilan, tradisi baca Yasin , Tradisi Maulid Nabi, Tradisi Manaqiban dan Haul ,Tradisi bulan syuro, Tradisi bulan Sya’ban, Ruwaahan dan nyadran, tradisi istighosah, sholat sunnah qobliyah jumat, ziara qubur , tradisi bulan safar, dzikir dan syair-syair sebelum sholat jamah, mengeraskan dzikir, bialangan sholat tarowih menurut Ibnu Taimiyah dan Abdullah Bin Muhammad Bin Abdila Wahab, tema-temah tersebut akan dijelaskan oleh penulis dikesempatan lain.
Saatnya para generasi baru membekali dan membuka wacana kecerdasan keislaman bahwa islam itu universal dan kearifan intelektual dalam melihat islam dari sisi pendekat social budaya serta sosiologis antropologis  islam.
Dalam kajian singkat ini tidak lepas dari kekurangan dan kekhilafan, penulis memohon kritik konstruktif kreatif demi kebaikan kemaslahatan dalam kajian ini, kajian ini tidak lain hanya rubric kecil untuk mengisi rutin di blok web Perum Griya Permata Nusantara  Made Lamongan, Semoga allah mengiringi dengan kebaikan keberkahan dalam kajian ini  dan mengharap Hidayah serta rahmadNya, semoga pembaca khususnya dan umumnya semua warga Griya Permata Nusantara senantiasa diberikan berkah, lancar rizkinya, sehat badannya,  sregep ibadanya. Amin amin
Serta paling akhir  salam saya kagem Kang Amin, kang alek, Kang Rizal, Kang Haqi  dan tak lupa kagem yang terhormat Bapak takmir musholah Rosyidul Akbar GPN Siap laksanakan dan juga para pembaca dapat mengakses tema-tema pendidikan di web pribadi penulis, ( www.nurdilamongan.co.id) atau kirim saran lewat email pribadi             ( nurdisiman@yahoo.co.id ) atau Fb. Nurdi.mpd

Sumber rujukan kajian :
1.        Kitab “Majalisus Saniyah “ halaman 22-23
2.        Kitab “Aqidah Firqoh Najiyyah”. Halaman 27 Karya Habib Zainal
3.        Kitab “Membumikan ASWAJA”, Pengatar Dr.KH Said Aqil Siroj MA.
4.        Refrensi-refrensi lain dari Makalah Workshop, seminar, maupun makalah penulis dalam kegiatan seminar. 

*) Penulis merupakan Alumni Nyantri di Ponpes AlFattah 1987 hingga 2012, sekaligus Alumni Beasiswa Pasca UIN Malang Kosentrasi Manajemen Pendidikan Islam serta dadi pak eRt diGPNE, He he he 100 x. ( Handphone 081-330-569-385)















Minggu, 06 Juli 2014

Bpk Nurdi dan Bpk Hari (wakil ketua RT) langi mejeng


KH Amin, bang Wawan, Bpk Parto And Bpk Ibnu langi Nyantai2


PROFIL KETUA RT



DAFTAR RIWAYAT HIDUP  

Yang bertanda tangan di bawah ini saya :
1.    Nama                   : Nurdi, S.Ag. S.Pd. M.Pd.I
2.    Nip                         : 19740304 200604 1 017
3.    Pangkat                 : Penata Muda Tk.1
4.    Golongan              : III/d
5.    Tempat Tgl Lhr     : Lamongan 4 Maret 1974
6.    Agama                  : Islam
7.    Alamat                   : Perum Griya Permata Nusantara
  Blok D2 No 21 RT 03 RW 11 Made Lamongan      
8.    Telp.                      : 081 330 569 385/081 233 625 606
9.    Blog Pribadi           : www.nurdilamongan.co.cc
10.  Email                     : nurdisiman@yahoo.co.id

Dengan ini menerangkan dengan sesungguhnya identitas saya  :

Rabu, 02 Juli 2014

Topik2 menarik Terkait Pendidikan dapat mengunjungi blog pribadi "nurdilamongan.co.cc"

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More